
Jakarta – Pengurus Besar Persatuan Tinju Indonesia (Perbati) menghadapi tantangan besar dalam menjalankan amanah dari pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Komite Olimpiade Indonesia. Tugas ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah misi yang menuntut pencapaian nyata: meraih medali untuk Indonesia di ajang Asian Games 2026 yang akan berlangsung di Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga awal Oktober 2026.
Menghadapi Tanggung Jawab Besar
Dengan keseriusan yang tinggi, Perbati menjawab tantangan ini. Proses seleksi atlet dilakukan secara ketat dan objektif melalui Tim Review Kemenpora, memastikan hanya petinju dengan catatan prestasi terbaik yang terpilih. Hengky Silatang, Sekretaris Jenderal PB Perbati, menekankan bahwa pemilihan atlet dilakukan tanpa kompromi.
“Semua keputusan berbasis kriteria. Salah satunya adalah prestasi peraih medali di SEA Games. Kami tidak menerima titipan. Kepercayaan ini kami sambut dengan serius,” kata Hengky Silatang saat konferensi pers di HS Boxing Camp di Ciseeng.
Atlet Terbaik di Pemusatan Latihan Nasional
Lima petinju terbaik telah terpilih dan sedang menjalani pemusatan latihan nasional. Di kategori putra, terdapat nama-nama seperti Vicky Tahumil Junior (peraih emas 51 kg), Asri Udin (peraih perak 60 kg), dan Maikhel Roberrd Muskita (peraih perak 80 kg). Sementara itu, di kategori putri, dua petinju peraih perak SEA Games 2025, Nabila Maharani (54 kg) dan Huswatun Hasanah (63 kg), juga diharapkan untuk membawa pulang medali.
Optimisme Menuju Podium
Hengky mengekspresikan optimisme bahwa semua atlet memiliki peluang untuk sukses, meskipun ia mencatat beberapa nama yang dianggap lebih berpotensi untuk meraih podium.
“Semua atlet memiliki kesempatan. Namun, yang paling mungkin untuk mencetak prestasi adalah Muskita dan Huswatun,” tambahnya dengan percaya diri.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Namun, perjalanan menuju podium tidak akan mudah. Dominasi dari negara-negara kuat seperti Uzbekistan, Tajikistan, serta kekuatan regional seperti Thailand dan Filipina menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh para atlet Indonesia.
Program Latihan Intensif
Untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan tersebut, Perbati telah merancang program latihan yang terstruktur dan disiplin. Sejak bulan Februari, para atlet telah menjalani pelatihan di Ciseeng sebelum berangkat ke luar negeri untuk pemusatan latihan internasional. Mereka akan berada di Vietnam selama satu bulan, diikuti dengan pelatihan di Uzbekistan selama tiga bulan.
Selama di Uzbekistan, para petinju akan dihadapkan dengan lawan-lawan kelas dunia, termasuk juara Olimpiade, dalam sesi latih tanding yang intensif.
Kebijakan Ketat untuk Menjaga Konsistensi
Menariknya, Perbati menerapkan kebijakan ketat: setelah berangkat ke luar negeri, atlet dilarang kembali ke Indonesia hingga menjelang pertandingan di Nagoya. Kebijakan ini diambil untuk menjaga konsistensi performa mereka.
“Kami ingin memastikan para atlet tetap fokus. Kami tidak ingin performa mereka terganggu oleh faktor non-teknis seperti pola makan atau gangguan lainnya,” tegas Hengky.
Jalan Menuju Kejuaraan
Setelah program pelatihan di Uzbekistan, para petinju akan langsung menuju Nagoya tanpa ada jeda. Selama masa pelatihan, evaluasi dilakukan secara ketat dengan disiplin yang tinggi, agar mereka siap tampil maksimal di ajang Asia.
Dukungan Pelatih yang Kuat
Di balik kesuksesan ini, dukungan pelatih juga menjadi aspek penting. Program ini dipimpin oleh pelatih kepala Kamanit Narerak, yang dibantu oleh pelatih nasional Patrick Timbowo dan Mathias Mandiangan. Aspek gizi dan kebutuhan atlet juga dijamin melalui dukungan Kemenpora serta inisiatif mandiri dari Ketua Umum PB Perbati sejak awal pemusatan latihan.
Menyiapkan Generasi Muda
Perbati tidak hanya fokus pada atlet elite, tetapi juga berusaha menyiapkan generasi masa depan. Sebanyak 15-16 petinju muda berusia 19-23 tahun tengah dipersiapkan sebagai pelapis, sekaligus menyongsong Kejuaraan Asia Junior 2026 yang akan dilaksanakan di Jakarta pada bulan Juli mendatang.
Membangun Masa Depan Tinju Indonesia
Bagi Hengky, seluruh proses ini bukan sekadar upaya meraih hasil instan. Ini adalah langkah untuk membangun generasi emas tinju Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia.
“Perbati hadir untuk menciptakan generasi emas tinju amatir. Kami ingin prestasi yang diraih berasal dari proses yang kuat,” tutupnya.


